Pages

Sunday, July 8, 2012

RAHASIA SEDEKAH : Buah Merawat Ibu Menjelang Ajal

RAHASIA SEDEKAH : Buah Merawat Ibu Menjelang Ajal
Hari ini (Sabtu, 12 Peb 2011) saya rasakan hari yang luar biasa dalam hidup. Untuk pertama kalinya sejak sekitar satu tahun yang lalu saya baru bisa menafkahi anak isteri dari jerih payah sendiri. Bekerja. Saya genggam erat-erat uang gaji minggu ini dengan hati bergetar penuh kesyukuran pada Allah SWT. Usai sudah penantian panjang ini. Selama ini, saya bergantung hidup pada kakak yang memberi jaminan hidup karena saya tidak bekerja? Kenapa saya tidak bekerja? Dulu, sayapun bekerja, lalu atas kemauan sendiri (meski mengandung banyak konsekuensi logis) saya keluar dari tempat kerja. Apa sebabnya? Saya harus merawat ibu yang sudah tua (80 tahun), hampir buta dan sakit-sakitan.

Satu tahun lebih saya merawat ibu dalam keadaan seperti itu. Aktivitas rutin saya dimulai dari sekitar jam 2 dini hari, saat ibu bangun dan minta diantar ke kamar mandi. Setelah buang air dan wudlu, ibu saya antar lagi ke tempat tidur untuk sholat malam hingga subuh. Setelah tidur sejenak, ibu minta dibangunkan lagi untuk ke kamar mandi, wudlu dan sholat dhuha. Sementara ibu sholat dhuha, saya membuatkan bubur hangat untuk sarapan ibu. Begitu selesai sholat dhuha, secangkir teh manis hangat dan bubur hangat sudah saya siapkan. sementara ibu sarapan, saya mencuci pakaian anak, isteri dan ibu saya.

Selesai menjemur cucian, saya mengepel badan ibu, meneteskan obat mata pada kedua mata ibu yang hampir tak dapat melihat lagi. Selanjutnya ibu tidur lagi hingga menjelang dhuhur. Waktu dhuhur tiba, saya bangunkan ibu untuk sholat dan makan siang. Selesai makan siang biasanya ibu berbincang-bincang dengan saya hingga dia merasa mengantuk dan tyidur kembali hingga menjelang asar. Saat waktu asar masuk, saya bangunkan ibu dan mengambil wudlu untuk kemudian sholat asar. Selesai sholat asar ibu wiridan hingga menjelang maghrib.

Selesai sholat sholat maghrib ibu wiridan lagi hingga waktu isya tiba. Selesai sholat isya ibu makan malam dan kemudian tidur setelah sebelumnya saya urut kaki dan badan ibu dengan param. Ketika ibu sudah tertidur, tugas saya belum selesai. Mengajari dan menunggui anak belajar dan menggarap PR menjadi tugas saya selanjutnya. Selanjutnya, gantian saya mendengarkan keluh kesah isteri tentang berbagai masalah dalam rumah tangga kami. Dan, sayapun tertidur dengan segala macam beban dalam kepala. Tak banyak yang saya minta pada Allah SWT dalam munajat saya waktu itu. Saya hanya mohon diberi tambahan kesabaran. Itu saja.

Rutinitas seperti diatas berjalan selama hampir setahun. Jangan tanyakan perasaan saya saat pagi hari, misalnya, sementara anak berangkat sekolah, isteri berangkat bekerja, satu persatu tetangga berangkat bekerja, dan saya mencuci dan menjemur pakaian ibu dan anak isteri saya.

Tanggal 14 Oktober 2010 ibu meninggal dunia dengan tenang. Seperti keinginannya sejak dulu, beliau meninggal dalam pangkuan saya, ditunggui anak-anaknya, cucunya dan cicitnya. Alhamdulillah, menjelang ajal ibu diberi kesempatan Allah SWT untuk berpamitan pada anak-anaknya, saling meminta maaf dan mewasiatkan pesan agar anak-anaknya saling rukun sepeninggalnya. Tak banyak orang diberi kesempatan seperti itu. Ibu meninggal dengan tenang dan bahagia karena ditunggui anak-anaknya. Ternyata, hal yang paling diinginkan orang tua adalah : MELIHAT ANAK-ANAKNYA RUKUN. Tak peduli betapapun kayaknya seseorang, tak akan berarti bila anak keturunannya tidak rukun. Berapa banyak orang tua nelangsa melihat anak-anaknya berebut warisan bahkan saat kedua orang tuanya masih hidup.

Tiga bulan selepas kepergian ibu, hati saya masih perih. Semangat hidup saya benar-benar drop hingga titik nadir. Saya berusaha bangkit lagi. Cari kerja. Pernah saya berjalan kaki sejauh 10 KM mencari kerja untuk mendapatkan satu jawaban : TIDAK! Tapi ternyata Allah SWT tidak membiarkan saya terlalu lama dalam kesedihan dan keterpurukan. Seorang teman yang dulu pernah satu kantor kirim SMS. Dia menawari saya pekerjaan yang semestinya menjadi tugasnya. Dia melewatkan pekerjaan itu karena diterima dalam perekrutan CPNS. Pucuk dicintai ulam tiba. Tentu saja tak melewatkan kesempatan itu. Jobnya pas dengan pengalaman saya dan saya sedang membutuhkannya! Alhamdulillah.

Setelah seminggu bekerja (dalam masa training) saya menerima apa yang menjadi hak saya. Sedekah tentu saja tak lupa. Hari ini, sepulang kerja, saya beli (dengan upah saya) jagung bakar kesukaan anak saya. Sore ini, saya nikmati jagung bakar bersama anak isteri. Selamat datang semangat hidup! I' back! Alhamdulillah!
READ MORE - RAHASIA SEDEKAH : Buah Merawat Ibu Menjelang Ajal

RAHASIA SEDEKAH : Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah)

RAHASIA SEDEKAH : Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah)
Jum’at lalu, saya berangkat ke kantor dengan dada sedikit berdegub. Melirik ukuran bensin di dashboard motor, masih setengah. “Yah cukuplah untuk pergi pulang ke kantor”.

Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah saja di rumah. Saya bertanya dalam hati, “makan apa keluarga saya siang nanti?” Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu, mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang tawakal.

Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu. Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang ojeg yang –sukurnya- sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.

Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja, yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan.

Tiba di kantor, tiba-tiba saya mendapatkan sebungkus mie goreng dari seorang rekan kantor yang sedang milad (berulang tahun). Perut saya yang sejak pagi belum terisi pun mendesak-desak untuk segera diisi. Namun saya ingat bahwa saya tidak memiliki uang selain yang seribu rupiah itu untuk makan siang. Jadi, saya tangguhkan dulu mie goreng itu untuk makan siang saja.

Sepanjang hari kerja, terhitung dua kali saya menelepon isteri di rumah menanyakan kabar anak-anak. “sudah makan belum?” si cantik di seberang telepon hanya menjawab, “Insya Allah,” namun suaranya terasa getir. Saat itu, anak-anak sedang tidur siang.

Pukul lima sore lebih dua puluh menit saya bergegas ke rumah. Sebelumnya saya sudah berniat untuk menginfakkan seribu rupiah di kantong saya jika melewati petugas amal masjid yang biasa ditemui di jalan raya. Sayangnya, sepanjang jalan saya tidak menemukan petugas-petugas itu, mungkin karena sudah terlalu sore. Akhirnya, sekitar separuh perjalanan ke rumah, adzan maghrib berkumandang. Motor pun terparkir di halaman masjid, dan seketika mata ini tertuju kepada kotak amal di pojok masjid. “bismillaah…” saya masukkan dua koin lima ratus rupiah ke kotak tersebut.

Usai sholat, setelah berdoa saya meneruskan perjalanan. Tapi sebelumnya, tangan saya menyentuh sesuatu di kantong celana. Rupanya satu koin lima ratus rupiah. Kemudian saya ceploskan lagi ke kotak amal yang sama.

Sesampainya di rumah, isteri sedang memasak mie instan. Semangkuk mie instan sudah tersaji, “kita makan sama-sama yuk…” ajak si manis. Kemudian saya bilang, “abang sudah kenyang, biar anak-anak saja yang makan”. Anak-anak pun lahap menyantap mie instan plus nasi yang dihidangkan ibu mereka. Rasanya ingin menangis saat itu.

***

Keesokan paginya, isteri menggoreng singkong untuk sarapan. Alhamdulillah masih ada yang bisa dimakan. Sebenarnya hari itu masih punya harapan. Seorang teman isteri beberapa hari lalu meminjam sejumlah uang dan berjanji mengembalikannya Sabtu pagi. Namun yang ditunggu tidak muncul. Bahkan ketika terpaksa saya harus mengantar isteri menemui temannya itu, pun tidak membuahkan hasil.

Tiba-tiba telepon saya berdering, “Pak, saya baru saja mentransfer uang satu juta rupiah ke rekening bapak. Yang empat ratus ribu untuk pesanan 20 buku bapak yang terbaru. Sisanya rezeki untuk anak-anak bapak ya…” seorang sahabat dekat memesan buku karya saya yang terbaru.

Subhanallah, Allahu Akbar! Saya langsung bersujud seketika itu. Saya hanya berinfak seribu lima ratus rupiah dan Allah membalasnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini matematika Allah, siapa yang tak percaya janji Allah? Yang terpenting, siang itu juga saya buru-buru mengeluarkan sejumlah uang dari yang saya peroleh hari itu untuk diinfakkan.

***

Saya bersyukur tidak memiliki banyak uang maupun tabungan untuk saya genggam. Sebab semakin banyak yang saya miliki tentu semakin berat pertanggungjawaban saya kepada Allah.
READ MORE - RAHASIA SEDEKAH : Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah)

RAHASIA SEDEKAH : Kiriman Amplop Datang

RAHASIA SEDEKAH : Kiriman Amplop Datang

Di TENGAH teriknya matahari siang, seorang laki-laki terus saja melangkahkan kakinya, setapak demi setapak, menelusuri jalan perkampungan. Di atas pundak kanannya, bergelayutan barang-barang jualannya, yang berupa mainan anak-anak, yang terdiri dari berbagai jenis, mulai dari mobil-mobilan hingga pistol-pistolan. Dari boneka, hingga jepit rambut.

Dia lalui gang demi gang, tanpa mempedulikan pengatnya sinar sang surya, yang memang bertepatan saat itu, seolah-olah tengah menunjukkan kemahadahsyiatan sinarnya. Setetes demi setetes, keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya. Sesekali, ia mengusap dahi dan wajahnya yang berlumuran peluh, dengan handuk kecil yang tidak lepas dari pundaknya.

”Sayang anak........sayang anak..... yang sayang anak.... ini ada berbagai macam mainan.” teriaknya menjajakan mainan, barang kali ada yang minat untuk membeli untuk si-buah hati.

Merasa letih, kemudian dia memilih untuk singgah di sebuah masjid, sekedar untuk mengendurkan urat-urat yang memang –mungkin- terasa tegang, karena jauhnya jarak yang telah ditempuh.

Dia letakkan barang dagangannya di halaman masjid, sedangkan dia sendiri beranjak ke beranda bagian belakang. Sambil mengamati dagangannya, ia sandarkan punggungnya di salah satu tiang, kemudian membujurkan kedua kakinya.

Tangan kirinya, ia jadikan penyanggah badannya. Sedangkan kanan kananya, asyik mengibas-ngibaskan handuk kecilnya, di antara kepala dan dadanya. Nampak jelas dari ekspresinya itu, rasa letih dan haus tengah melilit dirinya.

Tak lama kemudian, dia berujar padaku, yang memang dari tadi mengamati dirinya.

”Mas bisa minta air. Saya haus sekali,” ujarnya lirih.

”Saya cek dulu yah di kamar takmir (pengelola masjid),” timpalku kemudian.

Sayangnya, ketika ditengok rungan yang luasnya tidak lebih dari 2x3 M² itu, tak ada setetespun air. Mau beli, bertepatan aku tidak bawa uang sama sekali. Tak ingin mengecewakannya, aku pun bergegas menuju kantin yang memang tidak jauh dari masjid, untuk mengutang sebotol teh dingin. Karena sudah saling kenal, pihak kantinpun tidak menyoalkan permohonanku.

Ketika disodorkan minuman tersebut, awalnya dia menolak. Dia merasa tidak enak, karena telah merepoti. Namun, karena terus kupaksa untuk meminumnya, dia pun akhirnya luluh, dan meminumnya.

Ketika cairan dingin itu telah melewati tenggorokkannya, tersirat dari rona wajahnya rasa kepuasaan. Senyumnya merekah indah, bak bunga mawar yang tengah mekar, ”Terima kasih ya, mas. Maaf sudah ngerepotin...” ujarnya.

Setelah beberapa lama mengobrol, si penjual mainan itu pun akhirnya berpamitan, minta undur diri, untuk melanjutkan perjalanannya. Akupun melepaskan kepergiannya dengan senyum dan hati berbunga-bunga, karena sedikit telah mampu membantu orang yang memang dalam kesusahan.


Berlipat Ganda

Entahlah, aku tidak kenal sama sekali pria itu. Ia bukan saudara, teman, tetangga. Namun ada satu hal yang sangat mendasariku untuk menolong laki-laki tersebut, sekalipun harus dengan jalur berhutang. Saya teringat firman Allah yang menjelaskan, bahwa barang siapa yang menginfakkan hartanya, maka dia akan menuai balasan sepuluh, hingga tujuh ratus kali lipat.

Keterangan ini pula lah, yang kuutarakan pada laki-laki yang sebelumnya tidak pernah kukenal itu, ketika bertanya, kenapa saya dengan mudahnya menolong dia, tanpa rasa curiga sedikitpun, padahal sebelumnya kami tidak saling kenal.

Hari-hari perkenalanku dengan pria tak dikenal sudah lewat. Suatu hari, saya berkunung ke kantor seorang teman. Tanpa diduga, dia menyodoriku sebuah amplop, yang katanya sebagai tanpa ucap terima kasih atasannya, karena sudah berulang kali membantu urusannya. Saya bingung, urusan apa yang pernah saya tolong padanya?

Sesampainya di kediaman, kubuka amplop itu, dan di dalamnya terdapat uang sangat banyak dan sangat berarti bagiku. Puji syukur, kupanjatkan ke pada Allah.

Tambah bingung lagi, selang beberapa menit setelah itu, datang salah satu temanku, memberikan satu amplop lain, yang katanya dari sahabatku yang lain. Agar tidak lama-lama diselimuti rasa penasaran prihal isi amplop, langsung saja aku membukanya. Dan, Subhanallah, ternyata di dalamnya juga terdapat uang, yang ini nominalnya lebih kecil.

Jadi, kalau dikalkulasi, jumlah uang tersebut sangat luar biasa bagi orang seperti saya. Dari sini, aku jadi tambah yakin, bahwa memang sedekah tidak akan pernah menjadikan kita miskin. Yang ada, justru ia akan menambah pundi-pundi harta kita. Kalau tidak di dunia, ya di akhirat nanti. Dengan catatan, tentu kita harus ikhlas.

Dalam kasus ini, saya jadi teringat firman Allah dalam surat Ibrohim ayat tujuh, yang berbunyi, ”.....Dan apabila kalian bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku, maka akan kutambah nikmat-nikmat-Ku pada kalian. Tapi, kalau kalian mengkufurinya, sesungguhnya, azab-Ku amatlah pedih.” (Ibrohim 7).

Semoga kita termasuk orang-orang yang ringan tangan dalam menginfakkan/mensedekahkan harta-harta kita di jalan Allah. Karena sesungguhnya berinfaq itu tidak membuat kita miskin. Bahkan sebaliknya, ibarat mengumpulkan tabungan, yang kelak akan diganti oleh Allah baik di dunia maupun di akherat. Tentu saja infaq yang disertai keikhlasan tanpa berharap imbalan.
Semoga menjadi pelajaran bagi kita. Amin....amin...yaa rabbal ’aalamin.

( Oleh : Robinsah )
READ MORE - RAHASIA SEDEKAH : Kiriman Amplop Datang

Monday, July 2, 2012

Kisah Nabi Sulaiman dan Anak Berbakti Kepada Orang Tuanya

ANAK SHOLEH
Selain seorang nabi, Sulaiman a.s. juga seorang raja terkenal. Atas izin Allah ia berhasil menundukkan Ratu Balqis dengan jin ifrit-Nya. Dia dikenal sebagai manusia boleh berdialog dengan segala binatang. Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang berkelana antara langit dan bumi hingga tiba di satu samudera yang bergelombang besar. Untuk mencegah gelombang, ia cukup memerintahkan angin agar tenang, dan tenang pula samudera itu.
Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. DI sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman.

Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu heran, “Kubah apakah gerangan ini?” fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.

“Sipakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?” tanya Nabi Sulaiman kehairanan.

“Aku adalah manusia”, jawab pemuda itu perlahan.“Bagaimana engkau boleh memperolehi karomah semacam ini?” tanya Nabi Sulaiman lagi. Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.

Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit.

“Setelah ibuku wafat aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sesuatu yang terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya.” Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman.

Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu.

“Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?” tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut.

“Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah.”

“Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?”

“Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.”

“Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?” tanya Nabi Sulaiman a.s yang merasa semakin hairan.

“Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam.” Tuturnya. Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

sumber :http://tausyah.wordpress.com
READ MORE - Kisah Nabi Sulaiman dan Anak Berbakti Kepada Orang Tuanya

Download MP3 TADABUR AL-QURAN MAKNA terjemahan bahasa indonesia

NoSurahListenDownload
1Al-Fatiha
( mp3 )
2Al-Baqarah
( mp3 )
3Ali-Imran
( mp3 )
4An-Nisaa
( mp3 )
5Al-Maaidah
( mp3 )
6Al-Anaam
( mp3 )
7Al-A’raf
( mp3 )
8Al-Anfal
( mp3 )
9At-Taubah
( mp3 )
10Yunus
( mp3 )
11Hud
( mp3 )
12Yusuf
( mp3 )
13Ar-Ra’ad
( mp3 )
14Ibrahim
( mp3 )
15Al-Hijr
( mp3 )
16An-Nahl
( mp3 )
17Al-Israa’
( mp3 )
18Al-Kahfi
( mp3 )
19Maryam
( mp3 )
20Tha-Ha
( mp3 )
21Al-Anbiyaa’
( mp3 )
22Al-Hajj
( mp3 )
23Al-Mu’minun
( mp3 )
24An-Nuur
( mp3 )
25Al-Furqan
( mp3 )
26Ash-Shu’ara
( mp3 )
27An-Naml
( mp3 )
28Al-Qasas
( mp3 )
29Al-Ankabut
( mp3 )
30Ar-Rum
( mp3 )
31Luqman
( mp3 )
32As-Sajdah
( mp3 )
33Al-Ahzab
( mp3 )
34Saba
( mp3 )
35Fatir
( mp3 )
36Ya-Seen
( mp3 )
37As-Saaffat
( mp3 )
38Sad
( mp3 )
39Az-Zumar
( mp3 )
40Ghafir
( mp3 )
41Fussilat
( mp3 )
42Ash-Shura
( mp3 )
43Az-Zukhruf
( mp3 )
44Ad-Dukhan
( mp3 )
45Al-Jathiya
( mp3 )
46Al-Ahqaf
( mp3 )
47Muhammad
( mp3 )
48Al-Fath
( mp3 )
49Al-Hujraat
( mp3 )
50Qaf
( mp3 )
51Adh-Dhariyat
( mp3 )
52At-Tur
( mp3 )
53An-Najm
( mp3 )
54Al-Qamar
( mp3 )
55Ar-Rahman
( mp3 )
56Al-Waqia
( mp3 )
57Al-Hadid
( mp3 )
58Al-Mujadila
( mp3 )
59Al-Hashr
( mp3 )
60Al-Mumtahina
( mp3 )
61As-Saff
( mp3 )
62Al-Jumua
( mp3 )
63Al-Munafiqoon
( mp3 )
64At-Taghabun
( mp3 )
65At-Talaq
( mp3 )
66At-Tahrim
( mp3 )
67Al-Mulk
( mp3 )
68Al-Qalam
( mp3 )
69Al-Haaqqa
( mp3 )
70Al-Maarij
( mp3 )
71Nooh
( mp3 )
72Al-Jinn
( mp3 )
73Al-Muzzammil
( mp3 )
74Al-Muddaththir
( mp3 )
75Al-Qiyama
( mp3 )
76Al-Insan
( mp3 )
77Al-Mursalat
( mp3 )
78An-Naba
( mp3 )
79An-Naziat
( mp3 )
80Abasa
( mp3 )
81At-Takwir
( mp3 )
82Al-Infitar
( mp3 )
83Al-Mutaffifin
( mp3 )
84Al-Inshiqaq
( mp3 )
85Al-Burooj
( mp3 )
86At-Tariq
( mp3 )
87Al-Ala
( mp3 )
88Al-Ghashiya
( mp3 )
89Al-Fajr
( mp3 )
90Al-Balad
( mp3 )
91Ash-Shams
( mp3 )
92Al-Lail
( mp3 )
93Ad-Dhuha
( mp3 )
94Al-Inshirah
( mp3 )
95At-Tin
( mp3 )
96Al-Alaq
( mp3 )
97Al-Qadr
( mp3 )
98Al-Bayyina
( mp3 )
99Az-Zalzala
( mp3 )
100Al-Adiyat
( mp3 )
101Al-Qaria
( mp3 )
102At-Takathur
( mp3 )
103Al-Asr
( mp3 )
104Al-Humaza
( mp3 )
105Al-Fil
( mp3 )
106Quraish
( mp3 )
107Al-Maun
( mp3 )
108Al-Kauther
( mp3 )
109Al-Kafiroon
( mp3 )
110An-Nasr
( mp3 )
111Al-Masadd
( mp3 )
112Al-Ikhlas
( mp3 )
113Al-Falaq
( mp3 )
114An-Nas
( mp3 )
READ MORE - Download MP3 TADABUR AL-QURAN MAKNA terjemahan bahasa indonesia