Pages

Friday, July 22, 2011

Membeli Kebahagiaan Dengan Sepiring Makanan

Membeli Kebahagiaan Dengan Sepiring Makanan
Sore itu disebuah tempat makan.

Seorang pemuda asyik melahap makanan yang terhidang di hadapannya. Sengaja dia memesan masakan
kegemarannya. Bau masakan memenuhi seluruh ruangan restoran, menitikkan air liur siapapun yang ada disana.

Selesai makan, pemuda itu tidak langsung pergi, dia memesan segelas minuman dingin. Mungkin berniat lebih lama duduk disana menghabiskan waktu sore. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang kakek tua yang berdagang asongan yang duduk di samping luar restoran itu.

Sesekali pandangan kakek itu menyapu pengunjung restoran, entah apa yang dipikirkannya, yang jelas terlihat berkali – kali si kakek menelan ludah, tidak tahan dengan bau masakan yang menggugah selera.

Pemuda itu sejenak tercenung dan berpikir “Kira-kira berapa lama ya kakek itu sudah berjualan disana? Apa dia pernah mencicipi nikmatnya makanan di resotan ini ya?” gumamnya.

Sewaktu membayar tagihannya di kasir, pemuda itu berbisik kepada pegawai restoran. “Mas, ini saya bayar seporsi makanan, nanti kalau saya sudah pergi, tolong berikan kepada kakek tua pedagang asongan itu ya”..

Pegawai itu tersenyum dan menganggukkan kepala kemudian pemuda itupun menaiki kendaraannya dan pulang ke rumah.

Pemuda itu tidak tau pasti apa yang kemudian terjadi ketika pegawai restoran membawakan makanan untuk kakek tua pedagang asongan itu. Entahlah, dia tidak ingin memikirkannya. Yang jelas saat ini dia sangat bahagia. Sebuah rasa indah yang memenuhi rongga dadanya, kebahagiaan sejati yang hanya dibelinya dengan seporsi makanan.
READ MORE - Membeli Kebahagiaan Dengan Sepiring Makanan

Kecanduan Sedekah

Kecanduan Sedekah
Saya tertegun dan manggut-manggut ketika membaca sebuah artikel yang bunyinya begini : Untuk bersedekah sebenarnya gak usah nunggu ikhlas dulu, lakukan aja sesering mungkin. Bisa saja dalam 10 kali
kita bersedekah yang 6 tidak ikhlas awalnya tapi masih lumayan ada 4 yang ikhlas. Dan kalo sering bersedekah lama-lama akan jadi kebiasaan sehingga nilai ikhlasnya sudah lebih banyak lagi yang pada akhirnya nanti bersedekah itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Kalo bersedekah ada unsur riya juga lakukan aja, toh yang rugi diri kita sendiri kalo yang menerima sih masih bisa merasakan kebahagian. Lumayan masih bisa tidak merugikan orang lain. Semua kegiatan yang baik memang awalnya harus dipaksa dulu sambil jalan diharapkan kesadaran mulai muncul.

Coba simak;
Sholat itu harus khusyu, memang kalo gak khusyu trus gak usah sholat?
Puasa itu harus bisa menjaga hawa nafsu, memang kalo gak bisa menjaga hawa nafsu boleh gak puasa?

Bukannya lebih baik;
Sholat aja dulu nanti juga lama-lama Insya Allah bisa khusyu
Puasa aja dulu nanti juga lama-lama bisa terlatih menahan hawa nafsu
Sedekah aja dulu nanti juga lama-lama bakalan bisa ikhlas…..

Jadi untuk bersedekah ternyata gak usah nunggu ikhlas dulu yang penting lakukan saja jangan dipikir jangan dihitung….
..Just Action !!! Karena Bisa itu hadir setelah Terbiasa.

Menilik pada pengalaman pribadi saya ungkapan tersebut tanpa saya sadari telah saya alami. Sebagai seorang pedagang ketemu orang yang meminta-minta merupakan aktivitas harian yang saya temui. Dulu saya amat antipati sekali melihat orang yang meminta-minta itu sebut saja seperi pengemis, pengamen dsb, pikir saya waktu itu “apa bener saya mendapatkan pahala dengan memberi kepada mereka, mereka saja terlihat masih muda, sehat dan kuat untuk bekerja bukankah secara tidak langsung saya mendidik mereka untuk malas belum lagi seperti pengamen-pengamen itu jangan-jangan uangnya untuk dibelikan minuman keras, bukan pahala yang kan diperoleh bisa-bisa saya turut menanggung dosanya karena ikut membantu, selain itu saya juga berfikir masa sih ada orang yang mau miskin selamanya dengan terus-terusan meminta setiap hari pula ataupun Tuhan membiarkan hambaNya terus menjadi peminta-minta, I dont think so”.

Pada umumnya orang berujar; “Sedekah itu seikhlasnya” kalimat itu juga yang biasanya saya gunakan kalo diminta sumbangan. “Maksudnya seikhlasnya apa sih pak” tanya seseorang, “kalo ada uang ya ngasih kalo gak ada uang ya jangan dipaksakan”, jawab saya. ” sering sedekah?” tanya temen saya, ” ya karena jarang punya uang ya jarang”, jawab saya. ” Lagian juga kalo punya uang kalo ngasihnya gak ikhlas percuma aja gak ada pahalanya”, saya nambahin. Kata “ikhlas” menjadi senjata pamungkas saya sebagai tameng untuk tidak memberi, dan sialnya ikhlas itu lama banget datangnya ke diri saya sehingga bertahun-tahun saya menjadi orang yang jarang memberi.

Nasehat simpel datang dari teman saya untuk menyadarkan; “kalau kamu mau jualanmu laris kasihkan saja receh-recehanmu itu buat mereka yang minta-minta itu, jangan kasihkan yang besar tapi cuma kepada satu orang saja karena menurutmu layak diberi tapi bagikan secara menyeluruh walaupun nominalnya kecil, terserahlah mau diapakan mereka dan apapun latarbelakang mereka itu urusan mereka dengan Tuhannya, kita cuma berusaha untuk membiasakan diri memberi karena hak orang yang telah memberi adalah menerima percaya deh’.

Dengan motivasi agar bisnis saya semakin meningkat saya ikutin saran teman itu. Emang sih efeknya tidak langsung terlihat tapi saya merasakan perubahan signifikan didalam diri saya pribadi diluar motivasi dagang tadi. Saya merasakan “kecanduan” untuk memberi kepada siapapun, ada seperti perasaan bahagia atau entah apapun itu namanya untuk terus berbagi dan memberi kalau sehari saja tidak ada pengamen atau pengemis yang datang meminta-minta atau ketika saya tidak ada uang untuk diberikan saya seperti merasa sedih atau seperti ada yang hilang . Ya, akhirnya saya turut merasakan apa yang sudah mereka-mereka lakukan untuk memperoleh kebahagiaan walaupu mungkin saya belum seektrim dan seikhlas mereka dalam memberi tetapi setidaknya saya berharap ‘kecanduan’ ini tidak luntur dan terus meningkat dan pada akhirnya mampu ikhlas lillahita’ala Amien.
READ MORE - Kecanduan Sedekah

Sedekah Menolong Menyelamatkanku

Sedekah Menolong Menyelamatkanku
 Suatu kejadian hidup saya yang berhubungan dengan sedekah dapat memberikan pelajaran berharga bagi yang mengalaminya, walaupun kejadian ini tidak terjadi di bulan ramadhan. Berikut petikan kisahnya :
Jika kita kehilangan sesuatu, baik barang-barang, dokumen-dokumen berharga ataupun sesuatu yang penting, tentunya membuat kita dongkol maupun jengkel. Hidup memang serangkaian masalah yang tentunya diperlukan kearifan sikap kita menyelesaikan masalah tersebut.

Sayapun jadi teringat film anak-anak dari Iran, yaitu Children of Heaven, (film Iran karya Majid Majidi yang mendapatkan berbagai penghargaan film internasional ) bercerita tentang seorang kakak yang telah menghilangkan sepatu adiknya dan berusaha mencarikan gantinya. Terinspirasi dari film itu, saya pun jadi teringat kisah saya ketika kehilangan sesuatu yang berharga dan digunakan dalam aktifitas keseharian.

Setahun yang lalu waktu istirahat siang, setelah melakukan sholat dzuhur di masjid, tiba-tiba handphone (hp) saya berdering, rekan kerja memberitahukan bahwa motor saya dicuri orang. Sepontan saya terkejut, sambil berlari kecil saya pun ke tempat kejadian di kantor. Suasana tempat kantor saya tiba-tiba menjadi ramai karena rekan-rekan kerja berkumpul membincangkan motor saya yang akan dicuri orang dan berkumpul di lokasi kejadian. Setelah sampai di lokasi, terlihat kendaraan motor saya siap meluncur ke jalan, kebetulan sebelum kejadian, motor diparkir dekat pintu gerbang kantor.

Wajah saya pun pucat pasi, seingat saya motor tadi sudah dikunci, baik kunci biasa maupun kunci ganda di ban depan maupun ban belakang. Astaghfirullah motor mau dicuri, ucap saya dalam hati. Akibat ulah pencuri, semua pengaman motor berupa kunci telah hilang juga dirusak pencuri, yang tinggal hanya kunci pengaman bagian belakang. Setelah tenang, teman-teman menyarankan agar motor segera di bawa ke bengkel motor, agar kunci dapat diperbaiki kembali dan motor dapat digunakan sebagaimana mestinya. Dengan diantar rekan kerja, saya pun berangkat ke bengkel. Sepanjang perjalanan, saya pun bersyukur, mengucapkan Alhamdullilah. Pertolongan Allah masih menaungi hambamu ini, ucapku dalam hati, sembari mengenang keutamaan sedekah dapat menolak bala.

Musibah motor mau hilang ini, mengingatkan saya bahwa sebelum musibah ini terjadi pada saya, ada satu episode hidup yang memberikan pelajaran bagi saya, agar hati-hati dalam menjaga sesuatu. Kisahnya berupa dompet saya dicopet di angkotan kota. Waktu itu kejadiannya berlangsung di pagi hari jam kerja, dengan kebiasaan saya sebelum mempunyai sepeda motor berangkat kerja memakai angkotan kota (angkot), di Bandung angkot jumlah penumpang ada yang harus tujuh-lima, dalam artian berpenumpang tujuh di tempat duduk sebelah kanan, dan kiri berjumlah lima sampai penuh, saya sendiri tak sadar ketika dompet hilang di angkot itu, tersadar waktu turun dari angkot, Astaghfirullah dalam hati. Dengan berusaha ikhtiar untuk mendapatkan kembali, dengan jalan melaporkan kejadian ke kantor polisi. Tentu dibarengi dengan evaluasi diri, mengapa kejadian ini terjadi? Setelah ikhtiar di lakukan tentunya dibarengi dengan dzikir- maupun doa kepada Allah Swt, agar dompet bisa kembali dan tentunya hikmah kejadian tersebut dapat merupakan ujian hidup ataupun kecerobohan saya pribadi.

Satu keajaiaban pun kembali saya alami, dompet yang hilang ternyata ditemukan kembali, kabar itu disampaikan oleh rekan kerja lewat telepon, yang memberitahukan bahwa dompet beserta uang memang sudah hilang akan tetapi surat-surat dan dokumen-dokumen masih ada dan ditemukan di jok kursi depan angkot yang berbeda dengan angkot yang biasa saya pakai. Yang lebih membuat saya takjub, angkot tersebut sedang berada di bengkel karena terkena musibah kecelakaan dan yang menemukan dokumen di dompet yang hilang itu, pekerja yang memperbaiki angkot, seorang bapak-bapak, usianya empat puluh tahunan ke atas. Subhanallah, ternyata beliau menceritakan kronologis kejadian ditemukannya dokumen-dokumen yang hilang. Dengan kejujuran dan kepolosan bapak ini, saya pun tak lupa memberikan sedekah, beliau pun menerima sembari mengucapkan terima kasih, saya pun tersenyum sambil berjabat tangan.

(Oleh : sandimuda )
READ MORE - Sedekah Menolong Menyelamatkanku

Susahnya Bersedekah

Susahnya Bersedekah
Saat ulang tahun ke 37th , pada saat 27 April 2011. Bertepatan saya barusaja belajar tentang kekuatan bersedekah. Dari sahabat saya Ippho Santosa. Pengarang buku mega BestSeller 7 Keajaiban Rejeki dan
Seabrek karya lainnya. Sedekah sudah merupakan makanan sehari-hari saya. Tidak ada lewat satupun. Cuman ini cara pandang beda. Jadi pas hari kelahiran saya, saya coba praktekan sekali lagi dengan kaca mata berniaga dengan Tuhan.

Tepat, jam 18 sore. Saya baru saja pulang dari sebuah minimarket. Memasukan mobil, dan masuk kerumah. Dikagetkan oleh sebuah suara dari luar pagar. Nada jawa barat. Serombongan keluarga, bapak,ibu dan 3 anak-anak yang masih kecil. Mereka dengan nada sopan, bahkan takut-takut mengatakan.

“Pak, maaf menggangu sebentar. Pagar tidak usah dibuka, tidak apa-apa. Saya hanya ingin minta nasi sedikit untuk istri saya.”

Seperti tersambar geledek, bagaimana orang serombongan itu tidak membawa uang sama sekali dan tidak meminta makanan utuh atau minta uang untuk bisa dimakan satu keluarga. Hanya meminta sedekah nasi untuk istrinya saja. Anaknya ? Dia sendiri?

Langsung saya jawab iya. Dan saya masuk kedalam dan mempersiapkan apa yang ada. Semua nasi saya masukan kedalam kotak nasi, telor yang baru saja di goreng untuk makan malam tanpa pikir 2x kali langsung saya masukan. Kebetulan ada beberapa aqua gelas. Langsung saya masukan kedalam 1 tas plastik dan bergegas keluar untuk memberikan itu kepada mereka. Dan masih sempat-sempatnya saya sisipkan uang Rp.50.000,- didalam tas itu

Tapi ternyata , sekeluarga itu telah menghilang entah kemana. Saya dan keluarga memutuskan untuk mengambil mobil dan mengejar satu keluarga malang itu. Niat baik saya, kebetulan di hari jadi saya, saya diingatkan Tuhan untuk berbagi kepada sesama. Maka itulah saat yang tepat untuk saya melakukan itu semua. Dan saya putari desa,kompleks perumahan dan daerah sekitarnya, untuk mencari mereka. Tapi ternyata tetap tidak menemukan dan berjumpa dengan mereka. 30 menit aku mencari mereka tetapi nasib berkehendak lain. Mereka tetap tidak bisa aku temukan.

Tuhan , maafkan aku. Aku kurang cepat bertindak, aku terlalu banyak berpikir, aku terlalu banyak pertimbangan. Tuhan, aku belajar satu hal. Bahwa bersedekat itu tidak perlu pakai lama, tidak perlu pakai mikir, tidak perlu pakai pertimbangan. Langsung kasih, maka berkatMu akan semakin mencerahkan aku.

Ah…susahnya bersedekah bagi orang pemula.

(Oleh : Ridwan )
READ MORE - Susahnya Bersedekah

Keajaiban Sedekah Pak Husni

Keajaiban Sedekah Pak Husni

Keajaiban Sedekah Pak Husni

Pasangan Pak Husni dan Ibu Juriyah tinggal di satu desa di kawasan perkebunan teh milik PT..Nusantara. di Cianjur. Mereka adalah pasangan suami istri dimana Pak Husni bekerja sebagai buruh tani sedangkan Ibu Juriyah bekerja sebagai guru swasta di Sekolah Dasar.
Di sekeliling tempat tinggal mereka, berdiri beberapa rumah yang rata-rata sebagai karyawan perusahaan perkebunan, sebagian ada yang berprofesi sebagai pedagang roti, bekerja di toko bangunan bahkan ada yang sebagai karyawan serta pejabat di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Keluarga Husni adalah keluarga harmonis, dia termasuk keluarga terpandang yang semua kebutuhan mereka dapat terpenuhi dengan baik. Mereka tidak pernah kekurangan sama sekali dalam hal sandang, pangan dan papan. Bahkan mereka juga tidak pernah terlambat dalam hal menyumbang kegiatan sosial, baik berupa kerja bakti maupun iuran sosial yang harus merogoh kantong saku sendiri.

Dalam hal semua jenis iuran sosial, keluarga Husni termasuk yang paling mendahulukan. Kondisi ini berbeda dengan para tetangga mereka yang notebane adalah orang kaya dengan aktivitas dan keuangan yang tergolong lancar dan berlebih. Tapi itulah anehnya, yang mampu-mampu justru kebanyakan absen dan tidak pernah mengisi iuran kegiatan sosial seperti pembangunan Masjid, perbaikan jalan maupun sarana umum yang lain.

Hal ini juga sama dengan tetangga lainnya yang bekerja sebagai salah satu pimpinan unit pada salah satu kantor Badan Usaha Milik Negara dengan tunjangan gaji yang bisa mencapai di atas 10 juta rupiah. Ya mungkin dalam hal pengelolaan keuangan rumah tangga tidak bisa melihat dari sisi luarnya saja. Bisa saja dengan gaji seperti itu mungkin tetap belum cukup.

Suatu saat Ibu Juriyah sedang sibuk membersihkan halaman rumahnya sedangkan Pak Husni sibuk menyiangi pohon mangganya yang sangat rimbun. Seorang nenek tua tiba-tiba datang sembari berkata pada Ibu Juriyah. "Penghuni rumah ini tidak akan kekurangan harta selama hidupnya". Nenek tua itu secara spontan mengucapkan kata-kata tersebut di depan Ibu Juriyah dan lantas ia pergi begitu saja tanpa penjelasan. Sebaliknya Ibu Juriyah sama sekali tidak mengerti maksud dan ucapan Nenek tua yang tidak dikenalnya itu.
Cerita itu bukan dongeng atau legenda, tetapi ini adalah kenyataan yang dialami keluarga Pak Husni. Bahkan Ibu Juriyah juga telah meyakinkan hal itu kepada saudaranya bahwa keluarganya selalu diberi kemudahan harta dan ketentraman berkeluarga sejak menempati rumah miliknya selam puluhah tahun. Keluarga Pak Husni memang selalu diberi keberkahan rejeki karena kebaikan-kebaikan yang selalu diberikan kepada orang lain.

Pak Husni dan Ibu Juriyah selalu menyisihkan setiap hasil panennya untuk zakat dan sedekah. Bahkan mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk sedekah. Siapapapun yang datang apalagi ia sampai menyampaikan kehendak hatinya untuk meminta uang, ia langsung memberikan apapun yang mereka miliki di rumah itu tanpa banyak komentar. Tidak heran jika Pak Husni tidak pernah mengalami kesulitan keuangan, makanan dan sebagainya. Hal yang sering dilakukan yang menurut tetangganya adalah menengok tetangganya yang sakit baik sakit ringan maupun sakit berat. Bahkan mereka tidak canggung untuk membawa keluarga si sakit ke rumah sakit dengan membiayai semua biaya perawatan dan pengobatannnya.

Suatu ketika Pak Husni sedang dalam perjalanan menjenguk sanak keluarganya yang berada di Wonosobo dan di Jogjakarta, tiba-tiba dia ditelpon oleh seorang tetanggannya yang bernama Mang Daim. Pada saat yang sama laki-laki itu memerlukan uang tebusan untuk menolong nyawa istrinya yang hampir tidak tertolong sehabis melahirkan. Karena Mang Daim memerlukan biaya besar untuk keperluan medis di rumah sakit swasta. Biaya yang diperlukan kurang lebhih 30 juta untuk bisa mengambil istri dan buah hatinya karena operasi cesar yang telah dilakukan oleh istri Mang Daim itu.
Akhirnya Pak Husni langsung pulang, sesampainya di rumah Pak Husni langsung menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit dia sempat kebingungan karena tidak membawa uang yang cukup untuk menebus obat dan membayar biaya perawatan istri Mang Daim. Kemudian Pak Husni bergegas pulang. Selama perjalanan dia berpikir " Dari mana uang sebesar itu ya Alloh? Gumamnya dalam hati.

Atas saran istrinya Pak Husni langsung menuju ke rumah saudara iparnya." Saya perlu uang sekarang minimal 30 juta". saudara ipatnya menyetujuinya tetapi dengan tenggang waktu yang tidak masuk akal. "Tidak boleh lebih dari 3 hari. Jika lebih dari 3 hari maka tanahmu menjadi milik saya." Kata saudara iparnya itu.

Ketika semua biaya perawatan dan pengobatan sudah terbayar, maka istri Mang Daim bisa dibawa pulang. Betapa bahagianya Mang Daim beserta keluarganya karena bisa membawa pulang istri dan buah hati mereka.
Suasana yang dirasakan Mang Daim berbeda denga suasana hati Pak Husni, "30 juta?, dari mana saya dapat mengembalikan itu dalam waktu 3 hari?, dari mana saya bisa mendapat uanh sebanyak itu? kalau tidak bisa mengembalikan berarti tanah dan sawah saya akan hilang?" Hati Pak Husni demikian gelisah.
Bi-idznillah atas kekuasaan Alloh SWT, ternyata kegelisahannya terjawab dalan waktu yang sangat cepat. Saat bangun tidur di pagi hari, dia mulai dibayangi berbagai kecemasan. Demikian juga saat siang dan sore.

Bahkan saat adzan maghrib berkumandang hatinya semakin gelisah karena waktunya untuk mengembalikan pinjaman akan segera berakhir. Dihari ketiga setelah menunaikan shalat maghrib dia berdoa "Ya Alloh, mudahkanlah segala urusan yang menyempitkan hati dan kehidupan saya. "Ya Alloh, berilah jalan yang mudah, baik dan cepat untuk menyelesaikan seluruh hutang saya" Demikian doa Pak Husni sambil menangis, dia sudah tidak ada jalan keluar lagi kecuali dicurahkannya isi hatinya kepada yang maha Hidup, uang 30 juta tidaklah mungkin datang begitu saja tanpa pertolongan Alloh SWT.

Diluar perkiraan, Alloh SWT ternyata mengabulkan doa Pak Husni dengan melapangkan berbagai kesulitan yang sedang dihadapinya. Malam itu selepas shalat isya Pak Husni Kedatangan tamu seorang saudagar kaya. Pak Husni sendiri tidak mengenali tamunya, yang dia tahu bahwa tamunya berkendaraan mobil mewah yang sangat mencolok kalau masuk kampung Pak Husni. "Kedatangan saya ini pertama silaturahmi, yang kedua saya mempunyai kelebihan uang dan silahkan bapak pakai dengan tidak usah memikirkan pengembalianya.

Saya dulu itu sebeltulnya pernah ditolong Bapak, saat itu saya tidak mempunyai tiket dalam perjalanan dari Jakarta ke jogjakarta dan berkat pertolongan Bapak saya tidak jadi diturunkan di tengah perjalanan." cerita saudagar itu. "Subhanalloh,, saya sendiri sudah lupa peristiwa itu lhoPak?" Timpal Pak Husni. "Justru saya teringat terus dengan Bapak, saya juga tidak tahu alamat bapak, tapi dengan niat tulus ingin silaturahmi ya saya cari-cari alamat bapak di Cianjur ini, berkat Alloh SWT-lah saya bisa berjumpa kembali dengan Bapak." Muka Pak Husni agak berkaca-kaca, Allloh sangatlah dekat, terutama dekat dengan orang-orang yang dekat dengan-Nya.

Setelah tamunya pulang Pak Husni langsung bergegas ke rumah saudara iparnya itu. Alangkah kagetnya setelah membuka amplop besar dari tamunya, rupanya isi amplop tidak hanya 30 juta rupiah tapi malahan 50 juta rupiah. Jumlah itu diketahui setelah Pak Husni menghitung sejumlah 30 juta untuk membayar hutang, tidak tahunya kok uangnya masih sisa begitu banyak.
Pak Husni hanya berdoa agar dapat membayar hutang sejumlah 30 juta, tapi Alloh SWT memberinya 50 juta.
READ MORE - Keajaiban Sedekah Pak Husni