Pages

Saturday, April 2, 2011

Kami Diberi Makan oleh Malaikat Allah

Kami Diberi Makan oleh Malaikat Allah

Keajaiban ini dialami masyarakat kampung saya, saat saya masih kuliah. Saat itu kami bergotong-royong membangun sebuah mushola di RT kami. Para bapak melakukan pekerjaan berat dan para ibu kebagian tugas mengurus keperluan makan siang kami. Saat puluhan orang makan siang bersama, terjadilah sebuah keajaiban ini. Sebuah kejadian yang tidak masuk akal bagi semua yang makan di situ, saya menyebutnya; KAMI DIBERI MAKAN OLEH MALAIKAT ALLAH…..
Saat itu makanan yang tersedia hanya cukup untuk belasan orang saja. Menurut perhitungan pak RT, yang hadir saat kerja bakti itu hanya belasan orang saja. Tapi tiba-tiba bantuan datang dari warga RT sebelah menjelang siang. Puluhan orang secara mendadak datang dengan sendirinya membantu pembangunan mushola di kampung saya tersebut.

Menyadari hal ini, akhirnya ada beberapa orang berinisiatif pulang mengambil uang untuk jaga-jaga membeli nasi dan lauk pauk seandainya kurang. Nggak enak khan sama tetangga RT yang sudah suka rela membantu kalau tidak dijamu dengan baik. Maklum makanan yang telah disediakan ibu-ibu hanya cukup untuk sekitar 15 orang sedangkan masyarakat yang datang mencapai hampir 40 orang.

Beberapa orang sudah siap seandainya makanan habis, mereka akan lari ke beberapa warung di sekitar kami untuk memborong makanan. Koordinasi dilakukan begitu cepat karena banyaknya bantuan yang datang. Uang donasi spontanitas dari warga untuk membeli nasi dan lauk pauk tambahan dikumpulkan di pak RT. Tugas pak RT memberikan perintah pada beberapa pemuda membeli makanan di warung saat makanan menipis nanti.

Akhirnya tibalah waktu makan siang. Semua makan dengan sangat lahap. Nikmat sekali rasa masakan yang dimakan saat itu. Pak RT dan semua warga merasa lega karena hidangan yang tersedia ternyata lebih dari cukup untuk menjamu hampir 40 orang yang bekerja bakti hari itu. Bahkan masih ada cukup makanan yang tersisa.

Semua orang beranggapan kalau pak RT sudah membelikan nasi dan lauk pauk tambahan sehingga nasi yang tersedia bisa cukup. Padahal sebenarnya pak RT belum menyuruh siapapun untuk beli makanan.

Malamnya saat beberapa orang berkumpul di rumah pak RT, saat itulah pak RT menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Saat semua warganya makan dengan lahap bahkan beberapa orang sampai nambah 2-3 piring, pak RT mengatakan hanya mampu BERTASBIH karena melihat sebuah keajaiban pada makanan yang dimakan warganya.

NASI YANG DIMAKAN OLEH SEKITAR 40 ORANG ITU TIDAK BISA HABIS, JUMLAHNYA TERUS BERTAMBAH DENGAN SENDIRINYA SAAT MAU HABIS. Padahal hampir semua yang makan pasti tambah nasi karena merasakan makanan hari itu sangat lezat walau lauknya sederhana. Akibatnya uang donasi spontanitas masih utuh…..

Saat itu saya, dan beberapa warga yang mendengar cerita pak RT hanya mampu berucap syukur yang dalam karena pembangunan mushola sederhana kami begitu diperhatikan langsung oleh Allah. Sampai-sampai urusan makan kami, Allah sendiri yang menghidangkan pada kami lewat malaikatNya. Subhanallah…..

Inilah kisah paling indah yang sampai sekarang masih tetap saya ingat, walaupun saya tidak tinggal lagi disana. Kebetulan pak RT adalah seorang ustad dan dia sangat yakin akan pertolongan Allah saat pembangunan mushola itu. Keyakinan itulah yang dijawab Allah dengan berbagai keajaiban-keajaiban walau pak RT membangun mushola hanya BERMODAL NIAT DAN TANPA UANG SEPERSENPUN.
READ MORE - Kami Diberi Makan oleh Malaikat Allah

Setelah Mengadopsi Anak Yatim

Mendadak Kaya Setelah Mengadopsi Anak Yatim

Dulu dia cuma seorang buruh pabrik dengan hasil yang pas-pasan. Suatu ketika datang seorang kerabat yang mengatakan ada seorang bayi yatim piatu yang butuh pertolongan. Walaupun dia juga punya seorang anak yang masih kecil dan untuk membelikan susu anaknya dia terkadang hutang, dia dan istrinya ikhlas mengadopsi bayi yatim piatu ini hanya karena Allah.
Dia tidak takut bayi itu akan mati kelaparan karena kemiskinan dia. Dia sangat yakin Allah tidak akan tinggal diam dengan keadaannya dan bayi yang dia adopsi. Akhirnya keyakinan yang besar akan pertolongan Allah itu terjawab. Allah memberi jalan rejeki dan menjadikan seorang buruh pabrik itu sebagai pengusaha sukses dengan kekayaan melimpah saat ini.

Saat saya berkunjung ke rumahnya pertama kali karena mengantar teman untuk keperluan bisnis, saya tidak percaya kalau dia dulu adalah seorang buruh pabrik. Rumahnya megah dan pabriknya juga sudah berskala nasional. Sewaktu saya tanya apa rahasia suksesnya, dia hanya menjawab tidak tahu. Mengapa dia menjawab tidak tahu? Karena semua rejeki itu datang benar-benar tanpa disangka-sangka.

Saat pertama kali membuka usaha pembuatan kue kering sebagai tambahan hidup karena anggota keluarganya bertambah (anak yatim piatu tadi), seakan keajaiban banyak terjadi pada bisnisnya. Tiba-tiba banyak datang pelanggan bahkan sampai dari luar pulau ke rumahnya dan memesan kue produksinya. Padahal dia tidak pernah beriklan.

Setelah itu banyak pihak bank dan perusahaan besar yang menawarkan pinjaman dan kerjasama bisnis dengannya. Semua datang dengan sendirinya tanpa beliau mencari-cari pinjaman atau peluang kerjasama itu. Hingga perusahaan yang semula hanya sebagai sambilan saja, kini berkembang sebagai perusahaan berskala nasional dengan omset yang besar.

“Mungkin karena saya ikhlas dan selalu berbagi mas”, itu jawaban terakhir yang terlontar dari pengusaha itu. Setiap hasil perusahaan yang dia peroleh, dia merasakan itu bukan hak dia. Makanya selalu disumbangkan untuk anak yatim, pembangunan masjid, pondok pesantren, dan para fakir miskin.

Dan satu hal yang tidak bisa dia lupakan adalah keajaiban setelah memberi pertolongan pada anak yatim piatu yang dia adopsi tersebut. Saat itulah beliau memberi wejangan pada kami tentang kekuatan doa anak yatim. Doa anak yatim (belum baligh) adalah doa yang langsung ditangkap oleh Allah. Doa anak yatim adalah doa tanpa penghalang dihadapan Allah. Allah akan langsung menjawab doa-doa anak yatim.

Saat pulang, saya mengucapkan terimakasih yang tulus pada beliau. Ilmu yang saya dapat hari itu sungguh berharga. Dan saat ini ilmu itu saya sharingkan untuk anda semua. Jangan lupakan untuk selalu berbagi dengan anak yatim, karena sebagian harga kita adalah hak mereka.
READ MORE - Setelah Mengadopsi Anak Yatim

si Pedagang Siomay

Kisah Inspiratif Sedekah Zhairy si Pedagang Siomay

Siapa yang berupaya untuk mendukung hajat orang lain untuk segera tercapai, maka dengan cepat hajat Anda akan tercapai juga....
Demikian solgan yang dipegang seorang Zhairy, seorang pedagang siomay yang sederhana tapi tidak lepas dari sedekah yang terus dilakukannya.
Zhairy adakah seorang laki-laki yang memiliki aktivitas menjual siomay setiap sore. Jam 14.00 WIB. Biasanya lelaki berambut lurus itu segera keluar dari rumahnya untuk menjajakan siomay ke kampung-kampung langganannya.
Akan tetapi sebelum berangkat Zhairy selalu mengambil siomay yang telah disipakannya untuk diantarkan kepada tetangganya, yang tidak lain dan tidak bukan dengan tujuan membahagian tetangganya dahulu sebelum mancari rezeki.

Sungguh, setiap perbuatan baik memiliki bekas yang berbeda dalam kehidupan seseorang. Zhairy merasa dalam perjalanannya menjual siomay seperti ada energi dalam tubuhnya, ada energi yang menunjukan dirinya. Yang biasanya siomay yang dijualnya biasa habis setelah maghrib, akan tetapi setiap kali memberikan siomay dagangannya itu pada seseorang, maka sebelum maghrib siomaynya sudah bisa habis terjual.

Memang tidaklah mudah untuk memberikan satu piring siomay sebelum berangkat, kadang kala hati measakan ada sesuatu yang berat karena seolah-olah satu piring siomay yang diberikan orang lain akan menyebabkan labanya berkurang. Tapi Zhairy menjadi sadar bahwa dengan memberikan sesuatu berupa siomay dagangannya justru seperti ada energi lain yang diterimanya. Energi yang membuat Zhairy semakin hari semakin besar dan banyak orang yang menjadikannya langganan. Jika mereka butuh siomaiy, seperti acara arisan Ibu-ibu atau arisan Bapak-bapak dan pengajian-pengajian RT pasti menghubungi Zhairy.

Zahiry merasa bahwa dengan berbagi kepada orang lain bukannya sebagai strategi bisnis, melainkan pada bagaimana caranya agar dirinya menjadi orang yang lembut hatinya sehingga merasa dekat dengan RabbNya. Dengan dekat kepada Rabbnya Zhairy tidak lagi mudah mengeluh, kecewa dan gampang putus asa karena setiap rezeki memang sudah diatur oleh yang Maha Memberi.
Usaha siomay Zhairy sekarang tidak harus berkeliling kampung-kampung lagi, dia sudah merintis dengan kios siomay yang walaupun kecil tapi dimulai dengan kelapangan hati. Pelanggan Zhairy tidak berkurang karena yang namanya makanan kalau orang sudah cocok dengan rasa maka akan berada dimanapun orang yang akan mencarinya.

Rutinitas memberi kepada tetangganya tidak pernah dilepaskanya dan setiap ada peminta-minta justru dia layani dengan baik dan tulus seperti halnya pembeli lain. diberikannya tempat duduk seperti pembeli lain. Hal mana tidak dapat dilakukan oleh orang lain dimana tempat duduk untuk pelanggan atau pembeli justru diberikan kepada seorang peminta-minta. Suatu kebiasaan yang justru membuat peminta-minta atau pengemis menjadi tersentuh hatinya dan secara tidak langsung mendoakaanya. Doa yang diberikan seorang yang tulus karena lepas dari rasa lapar.
subhanalloh...........
READ MORE - si Pedagang Siomay

Sedekah Saat Berhaji

Sedekah Saat Berhaji

“Bapak mau pergi haji ya?” tanya Bu Yayah pada suaminya yang baru pulang dari biro haji milik salah seorang saudaranya.

“Iya, diajak Hari…. jadi pembimbing haji.” Jawab suaminya. Bibir Bu Yayah maju beberapa senti. Kok bisa-bisanya saudaranya itu tidak mengajaknya pula. Ia kan juga ingin naik haji lagi.

“Ibu nggak bisa ikutan juga, Pak?” suaminya menoleh.
“Hmm…” ia menggaruk-garuk kepalanya, “bisa aja sih, asal Ibu bisa mencari 10 orang yang mau naik haji di bironya Hari. Nanti Ibu bisa berangkat juga dengan gratis.”

Bu Yayah mengangguk mengerti. Wah.. tantangan nih, pikirnya. Tanpa menunda lama, segera saja ia mulai menelpon kenalannya yang dianggap potensial.

“Bu Harun? Katanya mau haji, ayuk lewat biro saudara saya,” bujuk Bu Yayah pada seorang kawannya.

Begitu pula dengan beberapa teman lainnya. Mungkin sudah rezekinya, dalam waktu singkat Bu Yayah mampu mengumpulkan sepuluh ibu-ibu untuk pergi haji. Sebagai imbalannya, Bu Yayah bisa berangkat haji bareng suaminya pada tahun 2002 itu.

“Alhamdulillah akhirnya Ibu bisa pergi haji lagi bareng Bapak, ya..” syukurnya. Suaminya mengangguk, tersenyum.

“Emang udah rezeki Ibu, asal usaha dan doa, Allah pasti memberikan jalan keluar.” Cetus beliau.

Sesuai peraturan pemerintah, dari setiap uang yang disetorkan sebagai biaya haji, maka para peserta diberikan jatah uang saku sebesar 1500 real, termasuk Bu Yayah dan suaminya. Jadi, mereka mengantongi saku sekitar 3000 real. Sebelum berangkat haji, mereka sudah sepakat hanya uang saku suaminya yang akan dipakai belanja, sedangkan jatah Bu Yayah untuk disimpan.

Mulailah mereka berangkat ke tanah suci. Beribadah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw, menahan hawa nafsu, menahan teriknya panas di waktu siang dan dinginnya suhu di saat malam. Alhamdulillah mereka bisa juga meredam nafsu belanja, hingga uang 1500 real yang dijadikan jatah saku berdua tidak cepat habis.

Suatu ketika di saat sedang menjalankan ritual salah satu ibadah, seorang ibu dengan logat Sunda yang kental mendekati Bu Yayah.

“Bu, punten… saya butuh uang…” katanya. Bu Yayah mengerutkan dahinya. Ibu itu terus memandang dan mengikuti langkahnya. Karena tak ingin ibadahnya terusik, Bu Yayah lalu memberinya uang sebesar 100 real.

“Kurang, Bu…” katanya kemudian. Hati kecil Bu Yayah berdecak kesal. Sudah dikasih kok malah nawar ini orang? Namun sejurus kemudian ia beristighfar dan tanpa pikir panjang ia menambahkan 50 real pada ibu itu. Barulah wanita itu pergi sambil mengucapkan terima kasih.

Malamnya, ketika Bu Yayah, suaminya, dan rombongan hendak menunaikan shalat Isya di Masjidil Haram, tanpa disangkanya, ia bertemu lagi dengan ibu berlogat Sunda itu. Ia membawa sajadah yang bagus. Begitu melihat kehadiran Bu Yayah, ibu itu menghampiri dan mengajaknya ngobrol. Ia memperlihatkan sajadah bagus itu.

“Bu, lihat deh, sajadah ini bagus ya? Saya beli dari uang yang Ibu kasih,” pamernya dengan senyum mengembang. Bu Yayah hanya mengangguk dan ikut tersenyum. Ia senang pemberiannya dapat bermanfaat bagi ibu itu.

“Alhamdulillah, saya senang kalau pemberian saya ada manfaatnya…” jawabnya singkat.

“Semoga Allah membalas kebaikan Ibu, ya… saya doakan…” lanjut ibu itu sebelum berlalu.

Kemudian, Bu Yayah dan suaminya tak pernah terpikirkan lagi tentang ibu itu, mereka disibukkan dengan sisa ritual ibadah yang harus mereka kerjakan di tanah suci. Namun sungguh tak disangkanya beberapa hari kemudian, mereka malah ketemu lagi dengan si ibu berlogat Sunda itu. Tapi kali ini ia tidak sendirian, melainkan membawa seorang kawannya. Ibu itu memanggil Ibu Yayah yang sudah dilihatnya dari kejauhan.

Bu Yayah mengerutkan dahinya. Subhanallah… bagaimana mungkin? Jamaah dari Indonesia, kan melimpah.

“Bu, kenalkan ini teman saya, “katanya dengan riang. Bu Yayah menyambut uluran tangan mereka.

“Ini, loh Ibu baik hati yang meminjamkan saya 150 real,” si Ibu logat Sunda menjelaskan pada kawannya.

“Ah, bukan pinjam, saya ikhlas kok ngebantu kalau emang ibu butuh,” ralat Bu Yayah.

“Nggak, saya pinjam kok, nih teman saya mau gantiin, mumpung kita ketemuan lagi.”

Bu Yayah melongo, teman ibu itu menyerahkan sekantong lusuh yang berisi uang.

“Ini, terima aja, Bu. Sebagai ganti. Sudah ya kami pamit.” Mereka berdua pergi menjauh.

Bu Yayah tak punya pilihan, kantong lusuh itu disimpan dalam tasnya, yang bahkan tak disentuhnya sampai mereka tiba di Indonesia. Begitu telah di rumah, Bu Yayah dan suaminya lantas menghitung sisa uang mereka.

“Eh… iya, Pak, tunggu!” Bu Yayah menepuk dahinya dan buru-buru ke kamarnya. Segera ia membuka kopernya dan mengambil kantong lusuh itu.

“Apaan itu, Bu?” suaminya heran.

“Ini loh, uang yang diganti ibu-ibu logat Sunda itu. Ibu belum tahu isinya.”

Mereka membuka ikatan kantong dan mengeluarkan isinya. Ternyata dalam rupiah dan…

“Subhanallah… kok bisa?”

“Kenapa?” suaminya menyahut.

Tapi istrinya malah terlihat kalang-kabut.

“Iki, Pak… jumlahnya sampe 20 juta! Aduh… mana Ibu nggak tau alamat Ibu itu lagi…. gimana ya?” Bu Yayah panik.

“Ini rezeki dari Allah, Bu…” suaminya menenangkan.

“Tahu! Tapi kan yang ibu berikan sama dia nggak segede ini. Gimana dong?”

Setelah berembuk, sepasang suami istri itu memutuskan hanya mengambil sejumlah hak mereka, yaitu sekitar satu juta rupiah, sisanya di sumbangkan ke sebuah yayasan.

“Insya Allah ini keputusan terbaik…” bathin Bu Yayah berkata.

Maka, mereka menyerahkan uang itu ke sebuah yayasan untuk digunakan seperlunya. Tak terpikirkan setitikpun dalam benak mereka untuk mengambil semua jumlah uang itu, meskipun itu buah sedekah mereka dari Allah. Mereka yakin rezeki tak akan ke mana.

Dan… betul saja… beberapa minggu kemudian, suami Bu Yayah yang memang hampir bangkrut usahanya mendapat tawaran bisnis minyak tanah dan solar. Bisa dikatakan bisnisnya yang sekarang lebih bagus dari bisnisnya yang dulu.

“Lihat, Pak? Allah membalas perbuatan kita. Coba kalau sisa uang itu nggak kita alihkan ke yayasan, belum tentu begini, kan?”

Suaminya mengangguk setuju. Kini mereka tak perlu khawatir lagi akan kelaparan karena bisnis yang nyaris bangkrut telah tergantikan. Maha Besar Allah!
READ MORE - Sedekah Saat Berhaji

Sedekah Seorang Guru PNS

Sedekah Seorang Guru PNS

Sebelum memasuki ramadhan saya tlah brjanji dlm hati akan mmberikan sedekah pada tetangga saya yang seorang janda dengan 4 orang anak yatim, namun karena nafsu uang trsebut saya belanjakan untuk membeli sesuatu yang tidak begitu saya perlukan.
Malam harinya saya bermimpi didatangi sang janda tersebut menagih uang sedekah saya itu. Begitu saya terbangun, saya tersadar bahwa saya telah menangguhkan hak nya anak yatim tsb. Begitu gajian (saya seorang guru PNS yang sumber penghasilan hanya berasal dari gaji bulanan saja) saya langsung segera ke rumah tetangga saya tersebut untuk menyampaikan kaul saya, meskipun uang yang saya miliki tidak begitu banyak sedangkan keperluan saya masih banyak yang belum terpenuhi apalagi saat ini saya sedang kuliah lagi di pasca sarjana yang tentunya memerlukan dana yang tidak sedikit, belum lagi untuk uang trnasport saya ke tempat kerja yg lumayan jauh sekitar 2 jam dari rumah dan keperluan berlebaran yang semakin dekat.

Sesampai di rumah tetangga saya tsb, si ibu ga ada, ternyata saat itu salah satu anaknya sedang dirawat di rumah sakit karena menderita leukemia, Subhanallah.....Astagfirullah......saya menangis dalam hati Allah benar- telah menegur saya lewat mimpi karena kelalaian saya. Segera saya memberikan sisa uang yang saya punya dan saya titipkan pada anaknya yang tertua.
Saya sadar bahwa uang saya telah habis, untuk ongkos ke tempat kerja hanya tinggal Rp 40.000,- belum lagi untuk beli buku dan keperluan untuk berlebaran ini, sedangkan gajian masih lama. Saya hanya berdoa dalam hati semoga Allah memberikan rejeki lain.

Tiba-tiba saya ditelpon teman saya mengabarkan bahwa uang makan dari pemda tempat saya mengajar keluar dan uang transport dari sekolah dibayar lebih dulu. Kemudian saudara saya minta pada saya untuk dibuatkan pempek karena banyak pesanan yang datang menjelang lebaran sedangkan dia tidak sanggup untuk memenuhi pesanan itu sendirian, lumayan pikir saya untuk menmbah pemasukan dengan memanfaatkan sedikit keahlian dlm bidang memasak.

Di kampus tempatku kuliah, saya mendapat kabar bahwa usulan beasiswa S-2 ku diterima....

Subhanallah......Allah Maha pemberi rezki, sedekah yang saya berikan terbalas dalam hitungan hari dengan berlipat ganda........ sungguh tak pernah rugi bertransaksi dengan Allah yang Maha Kaya lagi pemurah
READ MORE - Sedekah Seorang Guru PNS